Produk telepon seluler PDA saat ini tengah mengalami tantangan yang berat, bukan hanya makin banyak bermunculan ponsel yang lebih murah, melainkan fungsi ”komputer” yang diharapkan pada saat sedang bergerak juga semakin mendapatkan tekanan dari evolusi notebook.
Merebaknya gaya communicator atau gaya yang menyerupai bentuk telepon seluler (ponsel) Communicator buatan Nokia sebenarnya sudah bisa dirasakan sejak Februari lalu. Pada pameran yang berlangsung dalam Mobile World Congress di Barcelona, Spanyol, tujuh bulan lalu itu memperlihatkan berbagai produk ponsel PDA yang menyerupai bentuk Communicator.
Variasinya bisa bentuk lipat seperti Communicator itu sendiri atau bentuk geser melebar. Pada intinya, bentuk itu menirukan model notebook dalam ukuran yang lebih kecil, bahkan di antaranya ada yang menyebutkan mini notebook dan sepertinya ini sudah merupakan bentuk ideal untuk perangkat ponsel PDA.
Paling tidak selama bulan puasa ini sudah ada empat merek yang memperkenalkan ponsel PDA dengan ”communicator style”. Mulai dari LG yang memperkenalkan KT 610 yang boleh dibilang sebagai mini-communicator lengkap dengan sistem operasi Symbian. Ponsel Korea ini ukurannya memang lebih kecil daripada Communicator, harganya juga lebih murah.
Tidak lama kemudian muncul Mobile Wireless Group (MWg) Sinc II dan belum lama ini HTC dan bahkan tiga hari lalu perusahaan komputer Asus memperkenalkan Asus M930 yang mirip Nokia E90, generasi baru Communicator. Selain itu, juga masih ada merek-merek lain yang memberikan aksen bukaan notebook pada produk PDA.
Asus saat ini juga sudah mengeluarkan versi netbook, sebuah perangkat notebook yang khusus untuk jaringan. Netbook, seperti juga Acer Aspire One, merupakan sebuah notebook kecil yang memiliki karakter seperti PDA sehingga lahirnya netbook sejak Juni lalu sedikit banyak telah memberikan tekanan pada PDA.
Dari berbagai merek ini, salah satu yang akan dibahas adalah ponsel PDA Sinc II dari MWg, sebuah perusahaan OEM yang meneruskan produk O2. Sebagai perusahaan baru memang masih harus berjuang keras untuk dikenal konsumen PDA pada umumnya; sedangkan bagi yang sudah terbiasa dengan O2, produk ini bisa mengobati harapan bagi pemilik O2 yang produknya sudah ketinggalan zaman.
Secara umum memang tidak ada yang spektakuler, kecuali perbaikan dari unjuk kerja produk dibandingkan dengan produk yang keluaran pertama seperti seri Atom. Sentuhan pada Sinc II terasa lebih lembut, tetapi berat yang 185 gram termasuk baterai ini sedikit mengganggu karena kebanyakan produk-produk PDA cenderung semakin ringan.
Sinc II
Pertarungan pada kelas PDA saat ini sebenarnya bukan menyangkut masalah bentuk luarnya saja, melainkan lebih pada sistem operasi yang diam-diam telah terjadi persaingan yang keras, selain Symbian yang lebih dahulu muncul kemudian muncul Windows Mobile, Palm, dan belakangan Android dari Google, serta masih ada beberapa lainnya.
Pada Zinc II ini dibekali dengan sistem operasi terbaru Windows Mobile 6.1 Preffesional. Dengan layar selebar 2,8 inci ini masih menggunakan resolusi QVGA 320 x 240 pixel), selain memiliki slot microSD yang mandiri di sisi luar yang sudah mendukung untuk jenis microSDHC. Jenis memori microSDHC sudah mendukung sampai 16 gigabyte (GB) untuk memori sebesar kuku jari itu dan di pasar Indonesia saat ini sudah tersedia kapasitas 8 GB yang harganya sekitar Rp 200.000.
Sedikit berbeda dengan ponsel PDA lainnya, ponsel ini mampu mengelompokkan SMS sehingga hanya menampilkan catatan komunikasi SMS dengan nomor tertentu. Terkesan seperti terjadi percakapan (tertulis) dengan nomor tertentu tanpa harus mencari SMS yang sudah lama dikirim sebelumnya.
Dengan akses ke jaringan seluler hingga high-speed downlink packet access (HSDPA) membuat PDA ini bisa mengakses jaringan nirkabel broadband hingga 3,6 Mbps (megabit per detik). Dengan jaringan yang bagus, perangkat ini juga mampu melakukan akses ke dunia maya dengan cepat.
Bagi pemilik alamat e-mail di Yahoo ataupun Google akan mendapatkan keuntungan. Format mobile web akan sangat memudahkan bagi mereka yang ingin membuka e-mail mereka dari mana saja berada tanpa harus berlangganan layanan khusus seperti BlackBerry.
Memang bukan push mail seperti pada BlackBerry, tetapi melalui mobile web bisa membuka kapan saja. Sampai saat ini e-mail masih belum menjadi media menyampaikan berita yang sangat urgen, hal yang sifatnya mendesak masih tetap dilakukan melalui komunikasi telepon langsung atau setidaknya SMS.
Ponsel berkamera digital 2 MP ini juga sudah memiliki fungsi penerima sinyal GPS untuk menentukan posisi atau koordinat di permukaan bumi ini. Namun, pengguna masih harus men-download peta digital untuk bisa melihat posisi dengan mudah.
Model sliding melebar ini sekaligus bisa menyembunyikan QWERTY keyboard yang rata. Keyboard yang nyaris tanpa tonjolan ini cukup menyulitkan bagi mereka yang sudah berusia, apalagi dengan warna huruf yang kurang kontras dengan warna dasar tombolnya. Bandingkan misalnya dengan KT610 yang tombol keyboard-nya menonjol dan warnanya sangat kontras lebih mudah dirasakan meski bentuknya lebih kecil. Bentuk tombol keyboard yang menonjol akan memberikan kepastian secara psikologis bagi penggunanya bahwa tombol itu sudah ditekan atau belum.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah bagian kepala dari stylus pen, selama percobaan berlangsung mudah pecah tanpa sengaja dan bukan oleh sebab yang tidak biasa, seperti terbentur atau jatuh. Memang ada kemungkinan posisi kepala stylus pen tidak ditempatkan pada posisi yang tepat. Pecahnya kepala stylus pen ini menyebabkan stylus tidak bisa ditarik keluar. Memang belum jelas apakah ini merupakan kelemahan secara umum atau hanya cacat produk saja.
sumber: kompas
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/19/02020489/gaya.communicator.makin.merebak